Bimbingan Teknis Penggunaan Aplikasi Penomoran Ijazah Nasional (PIN) dan Sistem Verifikasi Ijazah Secara Elektronik (SIVIL).

Pada hari selasa, tanggal 25 Juli 2017 Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta mendapatkan undangan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemeristekdikti) Tentang Standar Operasional Prosedur Penomoran Ijazah Nasional (PIN) beserta Bimbingan Teknis Penggunaan Aplikasi Penomoran Ijazah Nasional (PIN) dan Sistem Verifikasi Ijazah Secara Elektronik (SIVIL).

Mulai September 2016, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menerapkan penomoran ijazah nasional untuk lulusan perguruan tinggi. Format penomoran yang seragam akan memudahkan pendeteksian ijazah yang dikeluarkan oleh semua perguruan tinggi di Indonesia.

Peluncuran penomoran ijazah nasional (PIN) yang didukung sistem verifikasi ijazah secara daring (Sivil) dilakukan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir pada hari Senin (2/5/2017). Selain itu, diluncurkan pula program Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (Budi) dan a Pusat Informasi dan Pelayanan Terpadu (Pintu).

Nasir mengatakan, Kemristek dan Dikti berupaya agar pemalsuan ijazah bisa teratasi dengan pengecekan yang mudah secara daring. Selain itu, ijazah yang dikeluarkan harus dapat dipastikan merupakan hasil proses belajar-mengajar yang benar sesuai ketentuan.

“Nanti nomor ijazah terkoneksi dengan sistem verifikasi. Jika tidak sesuai, keabsahan ijazah tersebut dapat ditelusuri lebih lanjut. Program ini dibuat untuk melindungi masyarakat,”

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad menjelaskan, PIN terdiri dari 14 digit angka yang memuat informasi nama program studi, tahun kelulusan, nomor urut mahasiswa, dan check digit. Dengan nomor PIN ini, keabsahan ijazah bisa dicek lewat Sivil yang terintegrasi dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT).

Sivil yang terintegrasi dengan PDPT memudahkan orang untuk melacak keabsahan seorang lulusan. Hal ini dilakukan dengan memverifikasi riwayat proses pendidikan di Perguruan Tinggi dan pemenuhan atas standar nasional Perguruan Tinggi.

STIP JAKARTA MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

STIP JAKARTA MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

World Class University (WCU) dalam beberapa tahun terakhir ini ramai dibicarakan di Indonesia. Peran global perguruan tinggi dalam upaya merespons tantangan global, dimunculkan dalam gagasan Cross Border University dan ditampilkan dalam apa yang disebut dengan “World Class University”.

Pada hari selasa tanggal 23 Mei 2017, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta mendapatkan undangan khusus dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) bagi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia yang telah mendapatkan Akreditasi “A” untuk diarahkan menjadi World Class University. WCU mengandung makna kebersamaan global.WCU muncul bagi kepentingan masa depan dan kehidupan masa depan masyarakat bangsa-bangsa di dunia. WCU bukan sebuah kemegahan atau luxury,bukan pula perwujudan academic excellence dan lambang kemajuan keilmuan yang dicapai semata, melainkan lebih dari semua itu. Universitas besar seperti Harvard University, Oxford University, dan Cambridge University, sesungguhnya tidak dirancang untuk menjadi WCU. Perguruan tinggi itu dirancang untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas, yang memberikan kontribusi tidak hanya kepada masyarakat bangsa di mana universitas itu berada, tapi juga untuk bangsa-bangsa lain.

Menurut Michael Lubacs, Brand Director Times Higher Education Word University Rangking, Indikator World Class University Pendidikan yakni:

Strategi STIP Jakarta Menuju WCU Tahun 2035

Inilah sepuluh Strategi menuju masa depan tahun 2035. Upaya ini bukan pekerjaan singkat, tapi memerlukan waktu lama paling tidak 18 tahun, belum termasuk masa transisi. Strategi jangka panjang yang diperlukan untuk membawa Sekolah Tingi Ilmu Pelayaran, bergerak secara dinamis menuju WCU pada tahun 2035, dijelaskan sebagai berikut.

  1. Menetapkan policy untuk mengembangkan pembinaan sikap kepemimpinan, mental dan moral yang baik kesamaptaan fisik yang prima serta peduli terhadap keselamatan, keamanan, efisiensi pelayaran dan pencegahan pencemaran lingkungan laut dalam jangka panjang dengan dukungan sumber daya yang diperlukan menuju terwujudnya WCU pada tahun 2035.
  2. Menyusun long terms plan di mana terdapat sekurang-kurangnya empat hal utama: longterms strategies, goals,programs,dan sumber daya yang diperlukan untuk menjadi pegangan dalam melakukan pembangunan keseluruhan aspek utama.
  3. Mengembangkan infrastruktur, sarana prasarana, simulator dengan kokoh sebagai pilar penopang pembangunan aspek-aspek strategis.
  4. Membangun institutional research capacity sebagai instrumen kelembagaan untuk melaksanakan riset yang menghasilkan invention dan inovasi sebagai hasil ciptaan lembaga untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan kemaritiman.
  5. Membangun leadership capacity kelembagaan secara total dari tingkat lembaga hingga tingkat jurusan.
  6. Mengembangkan dan menerapkan ICT sebagai facilitating element,baik dalam proses manajemen kelembagaan maupun dalam kegiatan akademik termasuk proses pembelajaran.
  7. Membangun hubungan dan kerja sama internasional dengan menciptakan network dan partnership dengan berbagai universitas dan berbagai perusahaan pelayaran internasional yang relevan secara terencana dengan baik untuk memasuki global market.
  8. Mengembangkan rich professionalism dan culture of excellence dalam setiap program dan kegiatan.
  9. Mengembangkan income generating programs yang bervariasi dan terus menerus untuk mengokohkan keuangan lembaga dalam jangka waktu yang panjang untuk mendukung keseluruhan upaya perwujudan World Class University pada 2035.
  10. Melakukan diseminasi dan komunikasi secara luas, baik lokal, nasional, maupun global dengan memanfaatkan berbagai jenis media massa Internasional.

Pelayanan pendidikan dan pelatihan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta memiliki tuntutan dari masyarakat pengguna jasa untuk dapat meningkatkan lulusan yang mampu dan kompeten dalam bidang kenautikaan, keteknikaan dan ketatalaksanaan Angkutan laut dan Kepelabuhanan maupun operasional perusahaan pelayaran.

Melalui keikutsertaan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta sebagai Lembaga Kedinasan yang aktif dalam hal standarisasi dan penjaminan mutu pendidikan, diharapkan SekolahTinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta menjadi lembaga yang mendidik Sumber Daya Manusia menjadi Perwira-perwira Pelayaran Niaga serta Ahli Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan yang handal dan berkualitas internasional.

 

Nauyanam Avasyabhavi Jivanam Anavasyabhavi

Di darat kita berkarya, Di laut kita berjaya.

 

 

 

RAPAT PENYUSUNAN SASARAN MUTU BERBASIS RESIKO ISO 9001: 2015

Salah satu kunci perubahan dalam ISO 9001: 2015 adalah adanya pembahasan risiko yang tidak lagi implisit atau terbatas pada unsur-unsur tertentu dari proses manajemen mutu. Risiko kini ditangani seluruh standar dan dibangun ke dalam keseluruhan sistem manajemen. Standar ISO 9001:2015 juga memiliki persyaratan eksplisit mengenai Risk Based Thinking (Pemikiran Berbasis Risiko) untuk mendukung serta meningkatkan pemahaman dan penerapan pendekatan proses.

Pada hari Selasa tanggal 18 April 2017, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran melaksanakan rapat penyusunan sasaran mutu berbasis resiko bersama seluruh jajaran subbag dan unit yang ada di STIP Jakarta.

Dalam ISO 9001: 2015, Risk Based Thinking membuat Preventive Action (Tindakan Pencegahan) menjadi bagian = dari perencanaan strategis dan operasional, sehingga referensi dalam standar terkait “Preventive Action (Tindakan Pencegahan)” telah digantikan dengan “Actions to Address Risks and Opportunities (Tindakan untuk Mengatasi Risiko dan Peluang.”). Pada dasarnya, Risk Based Thinking mengubah seluruh sistem manajemen menjadi alat perencanaan pencegahan.

Risk Based Thinking adalah bagian utama dari pendekatan proses, memastikan bahwa risiko dipertimbangkan dari awal sampai akhir proses. Kunci utama dari pendekatan proses adalah adanya proses organisasi yang beroperasi sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. Dengan memahami kegiatan sebagai proses terkait yang berfungsi sebagai sistem yang lengkap, akan membantu organisasi untuk mencapai hasil yang lebih konsisten. Dengan demikian organisasi harus mempertimbangkan aktivitas input dan output; serangkaian kegiatan dalam proses; proses bekerja dalam sistem; sasaran dimana sistem harus beroperasi; dan arah dimana sistem harus pergi.

Pada bulan September 2015, ISO menerbitkan edisi baru standar manajemen mutu ISO 9001:2015 Quality management systems — Requirements. Edisi baru ini memuat banyak perubahan yang mencerminkan tren mutakhir dalam bidang manajemen yang berkembang pesat setelah edisi terakhir standar ini, ISO 9001:2008, diluncurkan.

Salah satu perubahan penting pada ISO 9001:2015 adalah pencantuman “pemikiran berbasis risiko” (risk-based thinking, RBT) bersama dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) terhadap pendekatan proses (process approach). RBT dijelaskan secara khusus pada klausul A.4 serta diterapkan secara umum pada klausul-klausul 4.1, 4.4, dan 6.1 ISO 9001:2015.

RBT memungkinkan suatu organisasi untuk menentukan faktor-faktor yang dapat menyebabkan proses dan sistem manajemen mutu (quality management system, QMS) menyimpang dari hasil yang direncanakan. Dari pengenalan ini, organisasi selanjutnya dapat menerapkan pengendalian preventif (pencegahan) guna meminimalkan efek negatif dan memaksimalkan peluang. Pengenalan konsep RBT ini menggambarkan integrasi antara manajemen mutu dengan manajemen risiko.

Konsep RBT secara implisit telah disertakan pada edisi-edisi ISO 9001 sebelumnya, misalnya melalui persyaratan untuk perencanaan, peninjauan, serta perbaikan. ISO 9001:2015 mencantumkan persyaratan bagi organisasi untuk memahami konteksnya (klausul 4.1) dan menentukan risiko sebagai dasar perencanaan (klausul 6.1). Hal ini menunjukkan penerapan konsep RBT dalam perencanaan dan penerapan proses QMS (klausul 4.4) serta akan membantu menentukan cakupan informasi terdokumentasi (documented information).

Salah satu tujuan utama QMS adalah sebagai alat pencegahan. Oleh sebab itu, ISO 9001:2015 tidak memiliki klausul atau subklausul terpisah mengenai tindakan pencegahan. Konsep tindakan pencegahan dinyatakan melalui penggunaan RBT di dalam penyusunan persyaratan QMS.

Penerapan RBT di dalam ISO 9001:2015 memungkinkan penghematan di dalam persyaratan preskriptif yang digantikan dengan persyaratan berbasis kinerja. Ini menimbulkan fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan ISO 9001:2008 dalam hal persyaratan proses, informasi terdokumentasi, serta tanggung jawab organisasi.

Walaupun klausul 6.1 menyebutkan bahwa organisasi harus merencanakan kegiatan untuk menangani risiko, tidak ada persyaratan untuk metode formal bagi manajemen risiko atau proses manajemen risiko yang terdokumentasi. Organisasi dapat memutuskan untuk akan atau tidak akan mengembangkan metodologi manajemen risiko yang lebih ekstensif daripada yang dipersyaratkan pada ISO 9001:2015, misalnya melalui penerapan suatu pedoman atau standar manajemen risiko seperti ISO 31000:2009.

Tidak semua proses pada QMS memiliki tingkat risiko yang sama dalam kaitannya dengan kemampuan organisasi untuk mencapai sasaran. Dampak ketidakpastian pun tidak sama terhadap semua organisasi. Sesuai dengan klausul 6.1, organisasi bertanggung jawab terhadap penerapan RBT serta tindakan yang diambil untuk menangani risiko, termasuk keputusan untuk menyimpan informasi terdokumentasi sebagai bukti tindakan terhadap risiko.

Klausul 4.1 (pemahaman organisasi dan konteksnya) menyebutkan bahwa organisasi harus menentukan isu eksternal dan internal yang relevan terhadap sasaran dan arah strategis organisasi, serta yang memengaruhi kemampuan organisasi untuk mencapai hasil yang diharapkan dari QMS organisasi. Organisasi juga harus memantau dan meninjau informasi terhadap isu-isu eksternal dan internal tersebut.

Klausul 4.4 (sistem manajemen mutu dan prosesnya) menyebutkan bahwa organisasi harus menangani risiko dan peluang sesuai dengan ketentuan klausul 6.1. Klausul 6.1 (tindakan penanganan risiko dan peluang) sendiri menyatakan bahwa saat merencanakan QMS, organisasi harus mempertimbangkan isu eksternal dan internal (klausul 4.1) dan persyaratan yang dirujuk pada klausul 4.2 (pemahaman kebutuhan dan harapan pihak yang berkepentingan) serta menentukan risiko dan peluang yang perlu ditangani untuk:

  • memberi pemastian bahwa QMS dapat mencapai hasil yang diharapkan;
  • meningkatkan efek yang menguntungkan;
  • mencegah atau mengurangi efek yang merugikan; serta
  • mencapai peningkatan.

Klausul 6.1 juga mencantumkan bahwa organisasi harus merencanakan tindakan untuk menangani risiko dan peluang serta bagaimana (1) mengintegrasikan dan menerapkan tindakan tersebut pada QMS dan (2) mengevaluasi keefektifan tindakan tersebut. Tindakan penanganan risiko dan peluang harus sebanding dengan potensi dampak terhadap kesesuaian produk dan layanan.

Pilihan penanganan risiko antara lain adalah menghindari risiko, mengambil risiko guna mengejar peluang, menghilangkan sumber risiko, mengubah kemungkinan dan dampak, membagi risiko, atau menerima risiko dengan keputusan terinformasi (informed decision). Peluang dapat menghasilkan adopsi praktik baru, peluncuran produk baru, pembukaan pasar baru, pengambilan pelanggan baru, pembangunan kemitraan, penggunaan teknologi baru, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang menguntungkan dan tepat untuk mewadahi kebutuhan organisasi atau pelanggannya.

Workshop dan Asistensi Pelaporan Data PD DIKTI 2016 – 1

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran memenuhi Undangan Pusat Data dan Informasi Kemenristek Dikti Pada hari Kamis Hingga Sabtu  tanggal 23 – 25 Maret 2017 untuk melaksanakan Workshop dan Asistensi Pelaporan Data PD DIKTI Semester Ganjil Tahun Ajaran 2016 – 2017 di Swiss Bell Hotel Batam.

Kegiatan ini merupakan kegiatan Rutin yang diadakan oleh Pusat Data dan Informasi Kemenristek Dikti kepada Perguruan Tinggi Kedinasan diseluruh Indonesia.

Melalui kegiatan ini dibahas berbagai kendala dan langkah langkah untuk perbaikan pelaporan pada periode berikutnya. Pada kesempatan ini juga dibahas menu menu tambahan diantaranya NIK Orangtua, NPWP, Ijazah Online dan manfaat PDPT dimasa yang akan datang.

Pelatihan Pembuatan ISBN

 

Pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017, Para Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran melaksanakan pelatihan pengajuan International Standard Book Number (ISBN).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara Koperasi Pegawai Negeri Sipil (KPN) STIP Jakarta dengan Perpustakaan Nasional dalam hal penerbitan ISBN. Karya dosen dapat dipatenkan dan memiliki nilai jual serta diakui secara Nasional. Pembuatan buku adalah salah satu tugas utama seorang Dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memiliki bobot angka kredit yang tinggi. Buku dapat diterbitkan, dijual, diberikan di Jurusan/dikirimkan ke Perpustakaan UPT lain  untuk dijadikan referensi Bahan Ajar. Pelatihan ini dilaksanakan pada Dosen Jurusan Nautika, Teknika dan KALK yang merupakan titik awal persiapan STIP dalam menghadapi Akreditasi Jurusan pada 2018 serta Akreditasi Lembaga Tahun 2020 nanti.

 

Audit Surveillance 2 STIP

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada pada tanggal 20 Maret 2017 melaksanakan Audit Surveillance 2 melalui Lembaga Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA) sebagai Lembaga sertifikasi dan Asesor independen penerapan Sistem Manajemen ISO 9001 : 2008 dalam hal ini diwakili oleh Bapak Bapak Mochamad Iqbal dan Bapak Moch Hatta Djamil selaku Accessor

Pelaksanaan Audit Surveillance 2 ini dihadiri oleh Pejabat Struktural dan Fungsional, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang pada kesempatan ini PLT Ketua STIP Bapak Marihot Simanjuntak,M.M. menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara.

Auditor melakukan assessment, monitoring dan improvement progres sebelumnya menggunakan metode diskusi, observasi, riview pada Sub.bag Adm Pendidikan, Adm Tenaga Pendidikan, Sub.bag Adm Pkn dan 3 Jurusan Nautika, Teknika dan Kalk.

Hasil Audit  2 yang telah disusun tersebut kemudian dipaparkan dalam closing meeting. Selanjutnya hasil Monitoring Improvement yang didapatkan didiskusikan dan disusun sebagai bahan perbaikan. Adapun kesimpulan dari pelaksanaan Audit tersebut didapatkan hasil bahwa penerapan Sistem Manajemen ISO 9001 : 2008 pada STIP Jakarta sudah sudah sesuai dengan standar mutu Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2008.

Sosialisasi Standar Operasional Prosedur di STIP

Kamis tanggal 16 Maret 2017 Satuan Penjaminan Mutu Melaksanakan Sosialisasi pendampingan Standart Operating Prosedure (SOP), yang dilaksanakan diruang rapat Gedung Utama lantai 3. Kegiatan yang dimulai pada Pukul 08.00 WIB tersebut di buka Oleh Kepala Pusat Penjaminan Mutu Agus Widodo, M.M. di hadiri oleh Puket I dan Puket II, Serta Unit jajaran dibawahnya. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai acuan agar setiap Unit kerja di lingkungan Perhubungan dalam menyiapkan dan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP), Untuk menyelesaikan sebagai judul SOP Sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing Unit Kerja, Sehingga mampu memberikan pelayanan Publik yang jelas dan pastui kepada pihak Internal maupun Eksternal kementerian Perhubungan.